MAKAU

BERJUANG DENGAN IMAN !!!

Kamis, 21 Juli 2011

MISTERI WALI ALLAH

"Maha Suci Allah yang tidak menjadikan dalil (tanda), bagi para wali-Nya, kecuali sebagai tanda pengenalan dengannya. Tidak akan sampai kepada mereka, kecuali orang yang dikehendaki akan menyampaikannya kepada Allah."

Tidak ada dalil atas Allah, selain Allah sendiri, dan tidak ada selain Allah yang bisa menyampaikan seorang hamba kehadirat-Nya, kecuali Allah STT. sendiri. Begitu pula mengenai para wali Allah. Allah SWT tidak memberi tanda atau bukti yang menunjukan bahwa mereka itu wali. Sehingga tidak ada orang yang mengetahui bahwasanya seorang wali itu adalah wali. Seorang wali pun tidak memberikan tanda-tanda bahwa dia adalah wali. Apalagi orang lain, tentu dia tidak akan bisa menunjukan tanda-tanda atau ciri-ciri bahwa seorang wali itu adalah wali. Derajat kewalian merupakan anugerah yang khusus dan istimewa yang semata-mata anugerah Allah yang diberikan kepada seseorang yang dikehendaki-Nya sebagai wali. bahkan tidak semua orang yang telah mencapai ma'rifat yang tinggi dapat mengetahui bahwa seorang wali itu adalah wali Allah, melainkan wali.
Oleh sebab itu Abdullah Al-Mursyi berkata : "Mengetahui wali Allah itu lebih sulit daripada mengenal Allah. Karena Allah SWT. dikenal dan diketahui dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keindahan yang serba Maha. Sementara untuk mengetahui bahwa seorang itu wali, lebih sulit karena, ia berpenampilan sebagaimana manusia, ia makan sebagaimana kita makan dan minum sebagaimana kita minum. Apabila Allah mengkhendaki untuk memberitahukan kepada anda bahwa seseorang itu wali, maka Allah akan melenyapkan wujud kemanusiaannya di hadapan anda, sehingga yang anda saksikan adalah kekhusuan dan keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepadanya."

Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman : "Para wali-Ku di bawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya. Supaya ia langsung juga mengenal kepada Allah dan kebesaran-Nya yang diberikan kepada seorang manusia yang dikhendaki-Nya."

Abu Ali-Jurjay berkata : "Seorang wali itu adalah orang yang fana (lenyap) dalam kondisi keabadian (baqa') dalam musyhadah dan melihat Tuhan. Allah yang mengatur segala-galanya, maka karena itu berturut-turut datang kepadanya nur Illahi."
Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa mereka yang mengakui Rabbunullah (Tuhan kami Allah), lalu istiqanah, memegang teguh komitmen keimanannya, tidak berubah oleh situasi dan kondisi apapun. Dari itu merekelah yang merasa hidup aman tidak takut dan tidak berduka cita di dunia dan akherat.

Sebagaimana firman Allah SWT. dalam 

QS.Fushshilat : 30. yang artinya :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan :"Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."

 QS. Yunus : 62, yang artinya :
"Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."


diangkat dari Kitab :  
  Menyelam ke Samudera Ma'rifat dan Hakekat  
oleh Syekh Akhmad Ibnu Athaillah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar